Kamis, 17 November 2016

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN, SIKAP & PRILAKU SEKSUAL REMAJA TERHADAP KEHAMILAN YANG TIDAK DIINGINKAN PADA REMAJA












                                            OUTLINE PENELITIAN                             

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN, SIKAP & PRILAKU SEKSUAL REMAJA TERHADAP KEHAMILAN YANG TIDAK DIINGINKAN PADA REMAJA




Diusulkan oleh:
Iman Tantomi NIM 131510121 (Angakatan 2013)




UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK
2016




Judul Outline              : HUBUNGAN ANTARA PENEGTAHUAN SIKAP DAN PERILAKU SEKSUAL REMAJA TERHADAP KEHAMILAN YANG TIDAK DIINGINKAN PADA REMAJA


Pengusul
a.       Nama               : Iman Tantomi
b.      NIM                :131510121
c.       Peminatan       :Kesehatan Reproduksi
d.      Program Studi :Kesehatan Masyarakat
e.       Telp./Hp          :081528240848

Mengetahui,                                                    Pontianak, ........................2016
Ketua Peminatan                                             Pengusul,




M. Taufik S.K.M, M.Kes                             (Iman Tantomi)
NIDN.                                                             NIM. 131510121


  





KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmatnya dan hidayah-Nya, sehingga tugas outline ini dapat di selesaikan dengan judul “Hubungan antara Pengetahuan, Sikap, dan Prilaku Seksual Remaja Terhadap Kehamilan Tidak diinginkan pada Remaja”. Tugas yang di berikan ini semoga dapat melanjutkan pada tahap selanjutnya dalam proses Skripsi nantinya.
Penulis menyadari masih perlunya bimbingan dalam penulisan karya ilmiah ini untuk itu di perlukannya saran dan pendapat dari pihak lainnya. Besar harapan  dalam penulisan ini untuk melaksanaan kewajiban sebagai mahasiswa, dan memperluas keilmuan dalam bidang kesehatan reproduksi khususnya dalam menangani kehamilan tidak diinginkan pada remaja.



















DAFTAR ISI

LEMBARAN USUSLAN........................................................ii
KATA PENGANTAR..............................................................iii
DAFTAR PUSTAKA..............................................................iv-v
RINGKASAN..........................................................................vi
BAB I PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang...................................................1-3
I.2. Perumusan Masalah
I.3. Tujuan Penelitian..................................................4
3. I.1 Tujuan Umum.............................................4
3. I.2 Tujuan Khusus.............................................4
I.4. Manfaat Penelitian
4. I.1. Bagi Mahasiswa..........................................5
4. I.2. Bagi Fakultas..............................................5
4. I.3. Bagi Peneliti................................................5
1.5. Keaslian Penelitian......................................5-8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
II. 1 Kehamilan tidak diinginkan........................9-12
II. 2        Pengetahuan .................................................12-13
II. 3               Siksp.............................................................14-15
II. 4          Prilaku  seksual.............................................16-18
II. 5          Prilaku seksual remaja................................18-21
II. 6 Kerangka Teori.................................................22
BAB III METODE PENELITIAN
III. 1        Desain Penelitian...............................................23
III.2. Populasi dan Sampeol
                  III. 2.1. Populasi................................................23
                  III. 2.2. Sample..................................................23
     III.2.3.  Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
                  III. 3.1. Data Primer........................................23
                  III. 3.1. Data Sekunder......................................24
III. 2        Teknik Pengolahan dan Penyajian Data...........24
III. 3        Teknis Analisis Data.....................................24-25
DAFTAR PUSTAKA...............................................................26
LAMPIRAN.................................................................................27


























RINGKASAN


Kehamilan tidak diinginkan merupakan (KTD) pada remaja seringkali beujung aborsi. Kehamilan pada remaja di kerenakan pada usia remaja pada saat melakukan hubungan seksual terjadi pada masa subur, yang menimbulkan kehamilan pada remaja putri. Beberapa faktor penyebab kehamilan yang tidak diiginkan pada remaja adalah pengetahuan, dari pengetahuan remaja yang kurang baik itu terbatasnya informasi, faktor komunikasi orang tua terhadap seksualitas remaja, yang kemudian itu memicu sikap remaja yang menganggap seks adalah kebutuhan bagi remaja.
Sikap dan prilaku seksual pada remaja yang di awali oleh hasrat dan keinginan nafsu sahwat, di tambah lagi dengan mudahnya mengakses video porno,buku, majalah dewasa, yang membuat para remaja untuk meniru adegan yang ia tonton. Untuk melampiaskan hawa nafsu maka remaja mengaplikasikannya dengan lawan jenis terkhusus pacarmya sendiri, yang hasilnya dapat menyebabkan kehamilan yang diinginkan remaja maupu keluarga itu sendiri.
Kehamilan yang tidak diinginkan dapat dicegah melaui dedikasi orang tua, prendidikan mengenai kesehatan reproduksi remaja, melaksanakan hal-hal yang positif seperti berolah raga, menjalakan ibadah, serta kegiatan sosial yang dapat di lakukan oleh remaja itu sendiri. Pada kasus ini juga perlukaknya kewaspadaan orang tua kepada anaknya, baik dari segi pola asuh, pengetahuan orang tua, lingkungan, teman sebaya dan juga kepada seluruh lapisan masyarakat untuk mencegah terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan.







BAB I
PENDAHULUAN

I.1Latar Belakang
                      Undang-undang nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan mencantumkan tentang pentingnya kesehatan reproduksi harus dilakukan secara preventif, kuratif dan rehabilitatif. Usia yang menjadi perhatian khusus dalam masalah kesehatan reprodiksi adalah usia masa remaja dimana usia remaja berhak memperoleh informasi, eduksi, dan konsling mengenaikesehatan reproduksi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan (Depkes RI,2007).
                       Usia remaja sendiri merupakan masa transisi yang ditandai oleh berbagai perubahan fisik, emosi dan psikis dan usia remaja itu sendiri berada pada rentang 11-12 tahun (BKKBN, 2006). Perubahan fisik dan tingkah laku sperti menjaga penampilan, mulai tertarik dengan lawan jenis, berusaha menarik perhatian dan muncul perasaan cinta terhadap lawan jenis yang kemudian akan menyebabkan permasalahan yang sangat kompleks seiring dengan masa transisi yang dialami oleh remaja sendiri (Gunarsa,2012 dalam Farida,2014).
                      Pada saat fase ini remaja akan cendrung terpaparnya remaja dengan masalah kesehatan reproduksi yaitu proses produksi hormon seksual dalam yang akan mengakibatkan timbulnya hasrat dan dorongan emosi dan seksual. Organ reproduksi sangat rentan Infeksi Menular Seksual (IMS) da HIV AIDS (Saifuddin; Ahmad Fedyani,1999 dalam Astin Nurhanifah dan Kusyoo Cahyo,2012).
Memasuki usia remaja banyak hal yang harus dipelajari dari masa ini. Dorongan seksual yang terjadi pada masa remaja apabila tidak didukung dengan sikap dan pengetahuan ditambah lagi dengan keterbatasan untuk memperoleh informasi kesehatan reproduksi akan menjadi resiko dalam permasalah seksualitas remaja. Masalah seksualitas yang sering terjadi pada masa remaja antaralain, terinfeksi penyakit menular seksual (PMS), HIV dan AIDS, penyalahgunaan napza, aborsi, dan kehamilan yang tidak diinginkan yang timbul akibat berhubungan seks pada saat masa subur (Gunarasa,2012 dalm Farida,2014).
Remaja merupakan kelompok potensial yang perlu mendapatkan penanganan serius. Proporsi penduduk berusia remaja menunjukan angka yang cukup besar, dengan adanya dorongan seksual perilaku remja mulai diarahkan untuk menarik perhatian lawan jenisnya, dan dalam rangka mencapai mengenai seks, ada remaja yang melakukannya dengan cara terbuka bahkan mulai mencoba bereksperimen dalam kehidupan seksual, misalnya melalui pacaran. Dengan berpacaran dalam membentuk perilaku kintiman melalui ciuman, bercumbu dan lain sebagainya. Tidak tersedianya informasi yang akurat yang benar pada kesehatan reproduksi, memaksa remaja untuk mengakses majalah, buku, maupun flim pornografi dan mengekplorasi diri  untuk mendapatkan kenikmatan. Hasilnya remaja yang beberapa genarasi lalumasih malu-malu kini sudah melakukan hubungan seks usia dini, yakni 13-15 tahun (Depsos RI 2008).
.
Pengetahuan remaja mengenai masalah kesehatan reproduksi masih relatif rendah. Berdasarkan hasil survei kesehatan reproduksi remaja (SKKRI) 2002-2003 menunjukan bahwa 21% perempuan dan 28% laki-laki tidak mengetahui tanda perubahan fisik apapun dari lawan jenisnya. Ketidak tahuan remaja  dan ketebatasan informasi dalam masalah kesehatan reproduksi dapat mengakibat terjerumusnya remaja kedalam perzinahan yang menyebabkan kehamilan yang tidak diinginkan oleh remaja maupun keluarga itu sendiri.
Sekitar 1 miliyar manusia atau setiap 1 diantara 6 penduduk dunia adalah remaja, 85% hidup di negara berkembang. Di Indonesia pertumbuhan jumlah remaja  berkembang sangat pesat. Pada tahun 1970 dan 2000, kelompok umur 15-24 dengan jumlah 21 juta menjadi 43 juta atau dari 18% menjadi 21% dari jumlah total penduduk Indobesia. (Kusmiran, 2012 dalm Malina Penny,2014). Hal ini dapat memberikan pengaruh buruk bagi remaja, terkhususnya bagi remaja putri yang sangat rentan mengalami kehamilan yang tidak diinginkan (KTD), sirnanya kesempatan untuk melanjutkan pendidikan maupun dalam pekerjaan. Bagi keluaraga menimbulkan aib, menambah beban ekonomi keluarga. Bagi masyarakat menurunnya kualitas sumber daya manusia, karena menungkatanya angka putus sekolah pada remaja, menyebabkan beban bagi ekonomi bagi masyarakat, sehingga derajat kesejahteraan masyarakat menurun (Depkes RI, 2008 dalam Melina Penny 2014).
Beberapa faktor yang menyebabkan kehamilan pada remaja antara lain hubungan perilaku seks pada subur, renggangnya hubunga antara hubungan antara orang tuanya, rendahnya interaksi di tegaj-tengah keluarga, keluarga yang tetutup dengan informasi seks dan seksuaidaklitas ditambah dengan kesibukan orang tua (Ambarwati,2013 dalam Farida 2014).
Di Indonesia  berhubungan dengan kejadian kehamilan yang tidak diinginkan sebagian besar di alami oleh ibu yang berpendidikan SMP (65,5%) dengan usia perkawinan 16-20 tahun (51,7%) hal ini sambil diiringi kejadian aborsi sebesar 6,71% (Pranata dan Sadewo, 2013).
BKKBN Kalimantan Barat tahun 2005 menunjukan bahwa prilaku remaja sebanyak 50% melakukan aborsi yang tidak aman hal ini lebih disebabkan karena kelahiran yang idak diinginkan dan sebagian berumur usia 12-17 tahun sedangkan pada tahun 2012 kejadian kehamilan yang tidak diinginkan menunjukan prevalensi KTD di Kabupaten Sambas sebesar 26,6% sedangkan di Kota Pontianak sebesar 22%.
Salah satu solusi untuk pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan di usia remaja yaitu dengan memberikan bimbingan, pendidikan, penyuluhan tentang pentingnya kesehatan reproduksi di usia remaja. Apabila seorang remaja mampuh mengerti pentingnya kesehatan reproduksi bagi merek.a, maka mereka akan dapat mencegah untuk terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan pada usia remaja. (siyono 2013).



I.2. Perumusan Masalaha
Berdasarkan uraian di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu “ apakah ada hubungan antara pengetahuan, sikap dan prilaku seksual remaja dengan kehamilan yang tidak diinginkan pada remaja?”

1.3.Tujuan Penelitian
3. I.1 Tujuan Umum
      Tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pengetahua, sikap, dan prilaku seksual remaja terhadap kehamilan yang tidak diinginkan oleh remaja.
3. I.2 Tujuan Khusus
     Tujuan khusus dalam penelitian ini adalah:
a.       Dapat mengetahui gambaran pengetahuan remaja pada kehamilan yang tidak diinginkan pada remaja.
b.      Dapat memperoleh gambaran sikap remaja pada kehamilan yang tidak diinginkan pada remaja.
c.       Mendapatkan informasi gambaran tentang prilaku seksual remaja dengan kahamilan yang tidak diinginkan pada remaja.
d.      Untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan remaja dan kehamilan yang tidak diingikan oleh remaja.
e.       Memperoleh informasi mengenai gambaran sikap remaja dengan kehamilan yang tidak diinginkan pada remaja.
f.       Mendapatkan informasi mengenai hubungan prilaku seksual remaja pada kehamilan yang tidak diinginkanpada remaja.







I.4. Manfaat Penelitian
4. I.1. Bagi Mahasiswa
     Dapat di jadikan refrensi sebuah karya ilmiah, yang dapat mendukung pekerjaan atau tugas sebagai mahasiswa dan dengan informasi yang di peroleh terhadap kehamilan yang tidak diinginkan dapat di jadikan pelajaran hidup untuk kedepannya.
4. I.2. Bagi Fakultas
     Sebagai bahan informasi untuk menyampaikannya kembali kepada mahasiswa, keluarga, masyarakat, dalam menangani kehamilan yang tidak diinginkan pada remaja.
4. I.3. Bagi Peneliti
     Dapat menambah pengalaman, wawasan dan pengetahuan penulis agar mampu menganalisa hubungan antara pengatuan, sikap, dan prilaku seksual remaja dengan kehamilan yang tidak diinginkan.
1.5. Keaslian Penelitian
Peneliiti
Judul
Variabel Penelitian
Metode Penelitian
Analisis Data
Hasil
Melina Penny, 2014.                                                                                                                              
Hubungan faktor pengetahuan dan efikasi diri dengan prilaku seksual remaja putri.
Pengetahuan, efikasi diri remaja putri tenteng prilaku seksual, dan perilaku seksual.
Potong lintang, observasi.
Analisis univariat, dan analisis bivariat.
Kesimpulan yang diperoleh:
 remaja remaja putri yang memiliki pengetahuan kurang baik sebanyak 74 orang, dan memiliki pengetuan baik sebanyak 90 orang. Remaja putri yang mampu mengefekasi diri sebanyak 56 orang dan yang tidak mampu 180 orang. Remaja putri yang melakukan perilaku seksual sebanyak 157 orang dan yang tidak melakukan prilaku seksual sebanyak 7 orang. Ada hubungan antara pengetahuan remaja putri dengan prilaku seksual remaja di SMA N 1 Abawang tahun 2014 (p value=0,045, PR=1,196). Ada hubungan antara Efikasi diri remaja putri dengan prilaku seksual remaja di SMA N 1 Ambawang tahun 2014 (p value= 0,005,PR=1,o75).

Peneliiti
Judul
Variabel Penelitian
Metode Penelitian
Analisis Data
Hasil
Novi Erlina Styawati, 2015.
Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian kehamilan yang tidak diinginkan pada remaja di wilyah kerja puskesmas Pakem Sleman tahun2015.
Tingkat pengetahuan, pola asuh orang tua, pergaulan remaja, dan kehamilan yang tidak diinginkan.
Survey pendekatan korelational.
Uji chi-square.
Kesimpulan yang dapat di peroleh: Remaja yang mengalami KTD sebagian besar mempunyai pengetahuan cukup tentang KTD 60%. Remaja yang mengalami kejadian KTD sebagian besar mempunyai orang tua yang menerapkan pola asuh demokratis dengan kategori cukup 66,7%. Remaja yang mengalami KTD sebagian besar mempunyai pergaulan remaja yang cukup (66,7%). Faktor-faktor yang secara signifikan berhubungan dengan kejadian KTD pada remaja di puskesmas Pakem Sleman tahun 2015 adalah tingkat pengetahuan tentang KTD (p 0,027), pola asuh orang tua (p 0,004) dan pergaulan remaja (p 0,012).








BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Kehamilan tidak diinginkan
II.1.1 Pengertian
Kehamilan yang tidak di inginkan adalah kehamilan yang dialami oleh seorang wanita yang sebenarnya belum menginninkan atau sudah tidak tidak menginginkan hamil. (BKKBN, 2007). Istilah kehamilan yang tidak diinginkan merupakan kehamilan yang tidak menginginkan anak sama sekali atau kehamilan yang tidak diinginkan tetapi tidak pada saat itu/mistimed pregnancy (kehamilan terjadi lebih cepat dari yang telah direncanakan.
Kehamilan yang tidak diinginkan berhubungan dengan meningkatnya resiko morbiditas wanita dan dengan prilaku kesehatan selama kehamilan yang berhubungan dengan efek yang buruk.
Menurut PKBI (2002) ada beberapa alasan yang membuat kehamilan itu tidak diinginkan  terjadi:
1.      Kehamilan yang terjadi akibat pemerkosaan
2.      Kehamilan yang datang pada saat yang belum tepat
3.      Kehamilan yang terjadi akibat seksual diluar nikah
4.      Penundaan dan peningkatan jarak usia perkawinan
5.      Ketidaktahuan pengetahuan tentang prilaku seksual yang dapat mengakibatkan kehamilan
6.      Tidak menggunakan alat kontrasepsi
        Salah satu penyebab dari kehamilan tidak diinginkan adalah kegagalan penggunaan kontrasepsi atau tidak mau menggunakan alat kontrsepsi meskipun metode KB sudah tersedia namun masih ada para ibu yang tetap tidak menggunakan alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan, hal ini dikarenakan kurangnya akses informasi dan pelayanan KB, selain itu pengetahuan tentang resiko kehamilan akibat hubungan seks yang tidak aman yang biasanya melakukan hubungan seks pada masa subur (Muzdalifah,2008).
        Berbagai akibat yang timbul yang mungkin dapat ditimbulkan oleh kehamilan yang tidak diinginkan, antara lain (Muzdalifah,2002):
1.      Kehamilan yang tidak diinginkan dapat mengakibatkan lahirnya seorang anak yang tidak diinginkan (unwanted child), dimana anak ini akan mendapatkan cap burukdikemidian hari.
2.      Terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan juga dapat memicu terjdinnya penguguran kandungan (aborsi) karena sebagian besar perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan mengambil keputusan atau jalan keluar dengan melakukan aborsi, terlevih lagi aborsi yang tidak aman.
        Kelompok yang rentan mengenai kehamilan yang tidak diinginkan (Yanti,2011) adalh sebagai berikut:
1.      Pasangan usia subur
                        Kelompok pertama “unmeet need” terdiri dari pasangan usia subur yang sudah tidak menginginkan anak tetapi tidak mau menggunakan kontrasepsi. Menurut hasil survey demografi dan kesehatan indonesia (SKDI) tahun 2002-2003jumlahnya sebesar 9% dari jumlah total pasangan usia subur.
2.      Para remaja
              Tingginya aktivitas seks remaja ini tidak seimbang dengan pemahaman mereka akan kehamilan, yang tenryata masih sangat minim. Misalnya, masih banyak remaja yang beranggapan bahwa bila melakukan hubungan seks satu kali saja, tidak akan hamil.
              Dengan kondisi seperti itu, tidak berlebihan bila remaja berkontribusi sebesar 27%dari keseluruhan kasus KTD dimana menurut data dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia tahun 2004 mengunggkapkan bahwa 30 dari kasus aborsi adalah remaja akibat kehamilan yang tidak diinginkan.
              Menurut lembaga Swadaya Masyarakat Sahabat Anak dan Remaja Indonesia menyebutkan bahwa untuk kabuptan bandung dengan jumlah remaja sebanyak 38.288 di duga pernah berhungan intim diluar nikah atau melakukan seks bebas.
3.      Pekerja seks komersial
              Berdasarkan estimasi departemen kesehatan tahun 2009 terdapat 15-17 juta kali transaksi seks pertahun. Kondisi ini selain membuka kemungkinan terjadinya saling tukar penyakit seksual maupun HIV/AIDS juga membuka kehamilan yang tidak diinginkan erungkap terjadi.
               Dengan kondisi seperti ini tidak berlebihan bila kelompok ketiga berkontribusi  sebesar 16% dari keseluruhan kasus kehamilan yang tidak diinginkan.
4.      Korban kekerasan seksual
               Korban kekerasan seksual walaupun belim transparan, namun kian hari semakain banyak terungkap kasus kekerasan seksual baik berupa perkosaan, incest maupun perbudakan seksual. Kelompok ini berkontribusi sebesar 9% dari keseluruhan kasus kehamilan yang tidak diinginkan.
              Terdapat banyak alasan timbulnya kejadian yang tidak diinginkan pada kalangan perempuan (Wahyudinata,2007):
a.       Kehamilan yang terjadi akibat perkosaan
b.      Kehamilan datang pada saat yang belum diharapakan
c.       Kehamilan yang terjadi akibat berhubungan seksual diluar nikah
        Sedangakan menurut PKBI (2002), banyak alasan yang dikemukakan kehamilan yang tidak diinginkan adalah sebagai berikut:
a.       Penundaan dan peningkatan jarak usia perkawinan .
b.      Ketidak tahuan atau minimnya pengetahuan tentang perilaku seksual yang dapat mengakibatkan kehamilan.
c.       Tidak menggunakan alat kontrasepsi
d.      Alasan karir atau masih sekolah.
e.       Kondisi kesehatan ibu yang tidak mengizinkan kehamilan.
f.       Kehamilan karena incest.

II.2.  Pengetahuan
2.2.1        Pengertian pengetahuan
        Pengetahuan (knowledge) merupakan hasil tahu, dan ini terjadi setelah melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu, pengindraan terjadi melalui panca indra yakni indra penglihatan, pendengara pendengaran, penciuman, dan peraba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sanagata penting dalam membentuk tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2003).
        Menurut Gazalba, dalam Notoatmodjo, (2005) pengetahuan adalah apa yang di ketahui atau hasil hasil dari pekerjaan tahu. Pekerjaan tahu tersebut adalah hasil dari pada : kenal, insaf, mengerti dan pandai.
        Apabila menerima perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses pengetahuan, kesadaran dan sikap yang positif maka perilaku itu akan bersifat tahan lama, namun sebaliknya apabila proses adopsi perilaku tidak di sadari oleh pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan berlangsung lama.
        Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai enam tingkat, yaitu:
1.      Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang sudah di pelajari sebelumnya, termasuk kedalam pengetahuan tingkat ilmu adalah mengingat kembali sesuatu sfesifik dari seluruh badan yang dipelajari atau rangsanga yang telah diterima, oleh sebab itu tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang di pelajari antara lain dengan menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan dan sebagainya.

2.      Memahami  (Comprehension)
Memahami di artikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat mengintreprestasikan materi tersebut secara benar. Orang yang paham terhadap objek atau harus dapat menjelaskan dan menyebutkan sebagai contoh: menyimpulkan, meramalkan terhadap objek yang akan di pelajari dan sebagainya.
3.      Aplikasi (Aplication)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real. Aplikasi disini diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prisip dan sebagainya dalam konteks situasi lain.
4.      Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjanbarkan materi suatu objek kedalam komponen-komponen, tapi masih dalam struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengklompokkan dan sebagainya.
5.      Sintesis (syinthesis)
Sintesis menunjukan pada suatau kemampaun untuk meletakkan keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis dalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi-formulasi dari formulasi yang ada dan sebagainya.
6.      Evaluasi (evalution)
Evaluasi ini dikaitkan dengan kemampuan unutk melakukan penilaian terhadap suatu objek atau materi. Penilaian-penilaian itu di asarkan pada suatu keriteria.

11.3. Sikap
2.3.1 Pengertian sikap
                               Sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan. Sikap seseorang terhadap suatu objek adalah perasaan mendukung atau memihak maupuan perasaan tidak mendukung ataupun tidak memihakpada objek tersebut (berkowitz dalam Farida,2014).
                               Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap stimulasi atau objek. Manifestasi sikap atau tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap belum merupakan suatau tindakan atau aktifitas, akan tetapi adalah merupakan predisposisi tindakan atau perilaku (Notoatmodjo,2003 dalam Syamsiwarni,2009).
                               Sebuah sikap belum otomatis terwujud dalam sebuah tindakan (everbahvior). Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perwujudan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan salah satunya fasilitas. Disamping faktor fasilitas diperlikan juga faktor dukungan (support) dari pihak lain misalnya keluarga terdekat, orang tua sangat penting dalam penentuan sikap dan prilaku seorang anak.
                   2.3.2. Tingkat Sikap
                               Sepertinya halnya pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan, yaitu:
1.      Menerima (Receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (objek).
2.      Merenspons (Responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelasaikan suatu dari sikap, karena dengan usaha unutk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan, terlepas pekerjaan itu benar atau salah adalah orang menerima ide tersebut.
3.      Menghargai (Valuing)
Mengajak orang lain unutk mengerjakan dan mediskusikan dengan orang lain terhadap suatu masalah adalah indikasi sikap tingkat tiga.
4.      Bertanggung jawab (Responsible)
Bertanggung jawa atas sesuatu yang selalu dipilihnya dengan segala resiko adalah merupakn sikap yang paling tinggi.

2.3.3. Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap
1.      Faktor Internal
Orang tua dan keluarga merupakan faktor utama pembentukan sikap seseorang kaena sikap pertama kali dibentuk, sebagian dari mereka yang didalam keluarganya mengalami banyak masalah akan memngalami gangguan psikologis dalam diri anak tersebut sehingga mereka akan tumbuh menjadi remaja yang liar, suka memberontak, susah diatur, keras kepala, bahkan banyak diantara mereka yang terjerumus dalam obat-obatan yang terlarang dan pecandu narkotika, psikotropika, dan zat-zat adikftif lainnya.
2.      Faktor Eksternal
Selain faktoe internal di atas, sikap juga dapat dipengaruhi dari  luar yaitu lingkungan yang dapat membentuk seseorang memiliki sikap dan perilaku yang baik maupu  menyimpang. Pergaulan yang tidak terkontro akan dapat menyebabkan nereka menjadi remaja yang liar dan susah diataur. Informasi yang salah mereka peroleh dari lingkungani kemudian dengan  pengetahuan yang kurang akan informasi yang kurang jelas dapat mengakibat seseorang akan terjerumus kedalam hal-hal yang dapat merugikan seseorang tersebut.


II.4. Perilaku Seksual
                        Seks berarti jenis kelamin. Segala sesuatu yang berhungan dengan jenis kelamin disebut dengan seksualitas (Kusmiran,2012). Pelrilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual baik yang dilakukan sendiri dengan lawan jenis maupun sesama jenis (Sarwono,2007). Perilaku seksual merupakan seksual pranikah yang dilakukan tanpa melalui proses pernikahan yang resmi menurut hukum maupun menurut agama (Mutadin,2002 dalam Melina Penny,2014). Menurut (Blanch dan Colier,1993 dalam Kusmiran,2012). Seksualitas meliputi lima area.
1.      Sensualitas
Adalah kenikmatan yang merupakan bentuk interaksi antara pikiran dan tubuh. Umumnya sensualitas melibatkan panca indra (aroma, rasa, penglihatan, pendengaran sentuhan) dan otak (organ yang paling kuat terkait seks dalm fungsi fantasi, antisifasi, memori atau pengalaman).
2.      Intimasi
Ikatan emosional kedekatan dalam relasi interpesonal. Biasanya mengandung unsur-unsur kepercayaan, keterbukaan diri, kedekatan dengan orang lain, kehangatan, kedekatan fisik, dan saling menghargai.
3.      Identitas
Peran jenis kelamin yang mengandung pesan-pesan gendeer perempuan dan laki-laki dan mitos-mitos (feminimitas dan maskulinitas), serta orientasi seksual, hal ini juga menyangkut bagaimana seseorang menghayati peran jenis kelamin sesuai dengan peran jenis kelaminnya.
4.      Lingkaran kehidupan (life cycle)
Aspek biologi dari seksualitas yang terkait dengan anatomi dan fisiologis organ seksual.
5.      Ekploitasi (exploitation)
Unsur kontrol dan manipulasi terhadap seksualitas,seperti kekerasan seksual, pornografi, pemerkosaan, dan pelecehan seksual.
Menurut kusmiran (2012) ruang lingkup seksualitas terbagi menjadi beberapa bagian, yakni :
1.      Seksual biologis
Komponen yang mendukung beberapa ciri dasar seks yang terlihat dari individu yang bersangkutan (kromosom, hormon, serta ciri seks primer dan skunder). Ciri seks primer timbul sejak lahir, yaitu alat kelamin luar (genitalia eksterna) dan alat kelamin dalam (genitalia interna). Ciri seks timbul saat seseorang meningkat dewasa, misalnya timbul rambut badan ditempat tertentu, (ketiak, dada), payudara membesar pada perempuan, dan perubahan suara pada laku-laki.
2.      Identitas seksual
Adalah konsep dari indibidu yang menyatakan dirinya laki-laki atau perempuan. Identitas seksual dalam bentuk banyak dipengaruhi oleh lingkungan dan tikoh yang sangatt penting (orang tua).
3.      Identitas gender
Penghayatan perasaan kelaki-lakian atau keperempuanan yang dinyatak dalam bentuk prilaku sebgai laki-lakiatau pperempuan dalam lingkungan budayanya. Identias budaya merupakan interaksi antar faktor fisik dan psikoseksual. Interaksi yang harmonis diantara kedua faktor ini akan menunjang perkembangan norma seseorang laki-laki atau perempuan.
4.      Perilaku seksual
Yaitu orientasi seksual dari seseorang individu, yang merupakan interaksi antara kedua unsur yang sulit dipisahkan, yaitu tingkah laku gender. Tingkah laku seksual didasari dorongan seksual untuk mencari dan memperoleh kepuasan seksual, yaitu orgasmus. Tingkah laku gender adalah tingkah laku dengan konotasi maskulin atau feminim diluar tingkah laku seksual. Prilaku seksual itu mulai tampak setelah anak menjadi remaja.
II.5. Perilaku Seksual Remaja
Perubahan dan perkembangan perilaku seksual yang terjadi pada masa rerfungsinya remaja di pengaruhi berfungsinya hormon-hormon seksual (testoteron untuk laki-laki dan progesteron untuk perempuan). Hormon-hormon inilah yang berpengaruh terhadap dorongan seksual pada manusia. Prilaku sosial memiliki pengertian yang berbeda dengan aktivitas seksual dan hubungan seksual (Kusmiran,2012 dalam Malina Penny,2014)
Prilaku seksual serimg ditanggapi sebagai hal yang berkonotasi negatif, pada hal perilaku seksual ini sangat luas sifatnya. Perilaku seksual merupakan perilaku yang bertujuan untuk menarik perhatian lawan jenis. Contohnya: berdandan, merapikan pakian, mejeng, main mata, merayu, menggoda, bersiul.
Aktivitas seksual adalah kegiatan melakukan dalam upaya memenuhi dorongan seksual atau kegiatan mendapatkan kesenangan organ kelamin atau seksual melalui berbagai prilaku. Contoh: berfantasi, masturbasi, cium pipi, cium bibir, sampai berhubungan intim.
Hubungan seksual adalah kontak seksual yang dilakukan berpasangan dengan lawan jenis. Contohnya: masturbasi, fantasi seksual, atau menonton, membaca buku yang berisi pornografi.
Cara yang bisa dilakukan orang untuk menyalurkan dorongan seksual antara lain.
a.       Menghabiskan tenaga dengan berolahraga
b.      Menyalurkannya melalui mimpi erotis (mimpi basah)
c.       Berkhayal atau berfantasi seksual
d.      Masturbasi atau onani
e.       Melakukan aktivitas seksual non penetrasi (berpegangan tangan, berpelukan, cium pipi, cium bibir, cium berat, petting)
f.       Melakukan akifitas seksual  (intercouse)
2.6. Dampak Perilaku Seksual Remaja
            a. Kehamilan pada remaja
Kehamilan pada remaja mempunyai resiko medis yang cukup tinggi, karena pada masa remaja, alat reproduksi belum cukup matang unutk melakuakan fungsinya (Kusmiran,2012). Rahim (uterus) baru siap melakuakan fungsinya setelah umur 20 tahun, karena pada usia i ni fungsi hormonal melewati masa kerjanya yang maksimal. Rahim pada seorang wanita mulai mengalami kematangan sejak umur 14 tahun yang ditandainya dengan menstruasi. Pematangan rahim dapat pula dilihat dari perubahan ukaran rahim secara otomatis. Pada seorang wanita, ukuran rahim berubah sejalan dengan umur dan perkembangan hormonal.
Pada usia 14-18 tahun, perkembangan otot-otot rahim belum cukup baik kekuatan dan kontraksinya sehingga jika terjadi kehamilan rahim dapat reptur (turunnya rahim keliang vagina) pada saat persalinan.
Pada usia 14-19 tahun, sistem hormonal belum stabil. Hal ini dapat dilihat dari siklus menstruasi yang belum teratur. Ketidakraturan tersebut dapat berdampak jika terjadi kehamilan. Kehamilan menjadi tidak stabil, mudah jadi perdarahan, dan terjadi abortu atau kematian janin.
Sebagian besar kehamilan remaja merupakan kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) yang merupakan terminologi yang biasa dipakai untuk memberi istilah adanya kehamilan yang tidak dikehendaki oleh wanita yang bersangkutan maupun lingkungannya. Kehamilan yang tidak diinginkan adalah suatu kejadian yang dikarenakan sebuah seabab sehingga keberadaannya tidak diinginkan oleh salah satu atau kedua calon orang tua bayi. Hal ini akan mengakibatkan resiko kesakitan dan kematian pada proses kehamilan maupun persalinan antara lain:
a.       Resiko pada prosses kehamilan
Perempuan yang hamil pada usia dini atau remaja cendrung memiliki berbagai resiko kehamilan dikarenakan kuranganya pengetahuan dan ketidaksiapan dalam menghadapi kehamilannya. Akibatnya mereka yang kurang memperhatikan kehamilan sangat beresiko mengalami hal sebagai berikut:
a.       Keguguran (aborsi), yaitu berakhirnya proses kehamilan pada usia kurang dari 20 minggu.
b.      Pre-eklamsia, adalah ketik teraturan tekanan darah selama dan eklampsia, kejang pada kehamilan.
c.       Infeksi, yaitu peradangan saat kehamilan.
d.      Anemia, yaitu kurang kadar hemoglobin dalam darah.
e.       Kanker rahim, adalah kanker yang terdapat dalam rahim, hal ini erat kaitannya belum sempurnannya perkembangan dinding rahim.
f.       Kematian bayi, yaitu bayi yang meninggal dalam usia kurang dari 1 tahun.
b.      Resiko pada proses persalinan
Melahirkan mempunyai resiko kematian bagi semua perempuan, bagi seorang perempuan. Seorang perempuan yang melahirkan kurang dari usia 20 tahun dimana fisik belum mencapai kematangan maka resiko yang dialami adalah:
a.       Prematur, yaitu  kelahiran bayi sebelum usia kehamilan 37 minggu.
b.      Timbulnya kesulitan persalinan, disebabkan karena faktor ibu ,bayi dan proses persalinan.
c.       BBLR (berat bayi lahir raendah) bayi yang lahir dengan berat lahir dibawah 2.5000 gram.
d.      Kematian  bayi, bayi mrninggal dibawah umur 1 tahun.
e.       Kelainan bawaan, yaitu kelainan atau cacat yang terjadi sejak dalam proses kehamilan.
f.       Resiko tertularnya penyakit menular seksual (PMS), seperti: Gonore (GO), sefilis, herpes simpleks (genitalis),Clamidia, Kondiloma Akuminanta, HIV/AIDS.
g.      Pengguguran kandungan yang tidak aman, infeksi organ-organ reproduksi, anemia, kemandulan, dan kematian karea pendarahan atau keracunan kehamilan.
h.      Trauma kejiwaan, seperti: depresi, rendah diri, merasa berdosa, hilang harapan masa depan
i.        Hilangnya kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dan kesempatan kerja.
























II.6. Kerangak Teori
 

Pengetahuan
1.      Tahu
2.      Memahami
3.      Aplikasi
4.      Analisa
5.      Sintesis
6.      Evaluasi


Perilaku seksual                                               kehamilan tidak diinginkan (KTD)


Sikap
1.      Menerima
2.      Merespon
3.      Menghargai
4.      Bertanggung
 jawab



gambar 1.1
hubungan antara pengetahuan sikap dan prilaku seksual remaja terhadap kehamilan tidak diinginkan
sumber: (BKKBN, 2007), (Farida, 2014), (Melina Prnny,2014), (Syamsiwarni,2009), (Notoatmodjo,2003).






BAB III
METODE PENELITIAN

III.1. Desain Penelitian
                          Desain penelitian dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan observasional analitik dengan rancangan cross sectional yaitu suatu penelitian yang memberikan gambaran secara objektif tentang keadaan yang sebenarnya dari objek yang diteliti disertai penjelasan hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya yang mempengaruhi terjadinya masalah kesehatan secara bersamaan (Pratiknya,2010).
III.2. Populasi dan Sampel
III. 2.1. Populasi
       Sugiyono (2008), menyatakan populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajarri dan kemudian ditarik kesimpulan. Popilasi dalam penelitian ini adalah 180 remaja putri SMA XX .
III. 2.2. Sampel
     Sampel dalam penelitian ini di ambil berdasarkan Kretiria Inklusi:
1.      Bersedia diwawancara atau bersedia jadi responden
2.      Remaja putri berusia 14-19 tahun yang pernah punya pacar dan yang sedang punya pacar
3.      Kelas X dan kelas XI yang masih aktif di SMA XX.
Sampel penelitian ini adalah 150 dari seluruh jumlah populasi (total population sampling) 180 siswi.
III. 4  Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
III. 3.1. Data Primer
                 Data primer dalam penelitian dilakukan dengan wawancara dan obervasional analitik yaitu melakukan pengamatan secara langsung ke objek penelitian untuk melihat situasi di daerah setempat, selain itu wawancara di lakukan secara langsung kepada staf-staf di SMA XX.
          Instrumen atau alat bantu yang dipilih dan digunakan dalam penelitian kegiatan ini adalah melalui komunikasi tidak langsung dengan cara mengisi kuesioner yang diberikan kepada responden.
III. 3.1. Data Sekunder
                 Data skunser yang diambil menyangkut gambaran umum tempat penelitian dari tata usaha SMA XX. Dan jumlah siswa yang diperoleh dari ketua urusan kesiswaan sekolah SMA XX.
                
III.4. Teknik Pengolahan dan Penyajian Data
          Setelah data terkumpul, maka dilakaukan pengolahan data dengan melalui beberapa tahapan, yang terdiri dari:
1.      Memeriksa data (editing)
Langkah ini dilakukan untuk mempermudah dalam proses kelengkapan penyempurnaa data yang kurang atau tidak sesuai. Dalam hal ini yang diperlukan adalah kelengkapan data, kejelasan data, konsistensi data, dan kesesuaian responsi.
2.      Memberi kode (coding)
Kegiatan ini mengklasifikasikan data menurut kategorinya. Langkah pemberian kode pada atribut dan variabel ini memudah peneliti dalam tahap analisa data.
3.      Menyusun data (Tabulating)
Mengelompokan data kedalam suatau kelompok data tertentu menurut sifat-sifat yang dimiliki sesuai dengan tujuan penelitian.
4.      Data  Entry
Data yang sudah diolah kemudian dimasukan kedalam master tabel atau data base komputer.
III.5. Teknis Analisis Data
                 Setelah dilakukan pengolahan data unutk tahap selanjutnaya adalah analisis data. Teknik anlisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat dan anlisis bivariat.
a.       Analisis univariat adalah analisis yang dilakuakan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karateristik masing-masing variabel yang diteliti dalam penelititan ini.
b.      Analisis bivariat adalah mendekripsikan dua variabel yang diduga berhubungan atau berkorelasi.kriteria penelitian yang dipakai dengan melihat tingkat signifikan yang ditunjukan dengan nilai probabilitas (P) karena tingkat kepercayaan penelitian yang digunakan adalah 95% maka nilai probabilitas yang dipakai adalah ( p = 00,05), sehingga Ho ditolak hubungan apabila nilai p > 0,05 Ho diterima dan Ha ditolak (Notoatmodjo,2010).
           Analisis univariat digunakan untuk melihat gambaran kehamilan yang tidak diinginkan pada remaja putri di SMA XX dan analisis bivariat  digunakan untuk melihan hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat dengan menggunakan uji statistik chi-square. Uji-square digunakan untuk melihat variabel faktor pengetahuan, sikap, dan prilaku seksual remaja dengan kehamilan tidak diinginkan pada remaja.















DAFTAR PUSTAKA

Dinas Kesehatan Pontianak.2012. laporan kesehatan ibu dan anak. Pontianak.
Depkes RI.2002. Standar Pelatanan Kesehatan,13-47. Jakarta
Farida. 2014.Hubungan antara Pengetahuan, sikap dan dukungan keluarga tentan masa subur dengan kehamilan yang tidak diinginkan pada calon penganti remaja wanita di Kecamatan Pemangkat. Skripsi. Universitas Muhammadiyah Pontianak.
Firdausy,Gilang N.2010.Hubungan antara pengetahuan dan sikap tentang seks pranikah dengan prilaku seksual pada siswa SMK XX Semarang.
Notoatmodjo, Soekidjo.2010. Metodelogi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Penny M.2014. Hubungan  faktor pengetahuan dan efikasi diri dengan perilaku seksual remaja putri. Skripsi.Universitas Muhammdiyah Pontianak.
Pranta, Setia dan Sadewo,FxSr.2013.Kejadian KTD di Indonesia.Badan Peneliti dan Pengembangan Kesehatan Indonesia. Jakarta. Syamsiwarni.2009. Hubungan tingkat pendidikan, pengetahuan dan sikap denngan pernikahan usia dini Desa Parit Haji Muchsin Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya. Skripsi. Universitas muhammadiyah Pontianak.
Syamsiwarni.2009. Hubungan tingkat pendidikan, pengetahuan dan sikap denngan pernikahan usia dini Desa Parit Haji Muchsin Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya. Skripsi. Universitas muhammadiyah Pontianak.
Sunaryo.2002. Gender dan Keluarga.


LAMPIRAN
Kepada ,
Siswi XX di........
Di-
            Tempat.
            Dengan hormat,
Nama                           : Iman Tantomi
NIM                            : 131510121
Jurusan                        : Kesehatan Reproduksi
Fakultas                       : Ilmu Kesehatan Masyarakat
                                      Universitas Muhammdiyah Pontianak
Program                       : Starata satu (S1)
            Pada saat ini sedang mengadakan suatu penelitian guna memenuhi tugas akhir dalam penyelesaian pendidikan. Dengan judul “Hubungan Antara Pengetahuan Sikap dan Prilaku Seksual Remaja Terhadap Kehamilan Tidak Diinginkan pada Remaja.
            Dengan jusul diatas saya mohon kesedian anda untuk menjawab kuesioner dengan jujur sesuai pengetahuan, dan aktifitas seksual yang pernah dilakukan sesuai dengan pengalaman masing-masing.
            Jawaban yang anda berikan akan saya jaga kerahasiaannya dan tidak akan digunakan diluar kepentingan penelitian ini.
            Demikian saya sampaikan, atas kesediaan dan kerja sama yang anda berikan saya ucapkan terima kasih.
                                   
Pontiank, bulan tahun                        
Peneliti           




        Iman Tantomi      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar